Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026). Pelemahan indeks terjadi seiring dengan turunnya harga sejumlah saham unggulan atau blue chip, termasuk saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps).
Berdasarkan data RTI Business, IHSG tercatat turun 5,06 persen ke level 4.922,80 pada perdagangan pagi. Kondisi ini turut menyeret sejumlah saham perbankan besar hingga mengalami penurunan tajam dan menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
Salah satu saham yang mengalami tekanan signifikan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham BCA terkoreksi hingga 6,86 persen ke harga Rp4.820 per lembar.
Penurunan juga terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang melemah 6,82 persen ke level Rp2.460 per saham.
Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 5,01 persen menjadi Rp3.220 per saham. Adapun saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkoreksi 4,04 persen ke posisi Rp2.850 per saham.
Pelemahan saham perbankan tersebut menambah tekanan terhadap IHSG yang bergerak di zona merah pada awal perdagangan.
Saham Grup Sinarmas Ikut Berguguran
Tekanan pasar juga meluas ke sejumlah saham yang terafiliasi dengan Grup Sinarmas. Mayoritas saham dalam kelompok tersebut mengalami penurunan harga, bahkan beberapa di antaranya menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat pelemahan paling besar, yakni 6,99 persen ke level Rp665 per saham.
Selanjutnya, saham PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (MSIG) turun 6,96 persen menjadi Rp8.350 per saham. Saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga terkoreksi 6,84 persen ke posisi Rp436 per saham.
Penurunan berikutnya terjadi pada PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang melemah 6,83 persen ke level Rp6.475 per saham.
Sementara itu, saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) turun 6,79 persen menjadi Rp6.175 per saham. Adapun PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) mengalami penurunan 6,71 persen ke harga Rp695 per saham.
Koreksi yang terjadi pada saham-saham tersebut mencerminkan tekanan jual yang meluas di pasar saham domestik pada awal pekan.
Investor Waspadai Pengumuman MSCI
Di tengah pelemahan IHSG, pelaku pasar juga mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan indeks dalam waktu dekat.
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih berisiko mengalami koreksi pada perdagangan Senin. Pihaknya memproyeksikan level support berada di 5.092, sedangkan resistance berada di posisi 5.295.
“Untuk Senin, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi dengan support 5.092 dan resist 5.295,” ungkap Herditya kepada detikcom, Minggu (18/10).
Menurut MNC Sekuritas, terdapat tiga faktor utama yang perlu diperhatikan investor, yakni perkembangan proposal MSCI, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), serta publikasi data ekonomi China.
Ketiga faktor tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan menentukan arah pergerakan IHSG pada perdagangan selanjutnya.
Rupiah Tertekan dan Data Ekonomi China Jadi Perhatian
Selain perkembangan MSCI, pelemahan rupiah terhadap dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Pergerakan nilai tukar dapat memengaruhi sentimen pasar, terutama di tengah kondisi IHSG yang sedang mengalami tekanan.
Investor juga menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) China. Data tersebut menjadi perhatian karena kondisi ekonomi China berkaitan erat dengan permintaan komoditas dan aktivitas perdagangan Indonesia.
MNC Sekuritas menilai pertumbuhan ekonomi China yang lebih kuat berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor komoditas di Indonesia.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor perlu mencermati perkembangan pasar, terutama pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar dan saham-saham yang mengalami penurunan tajam.
Perkembangan proposal MSCI, stabilitas rupiah, serta data ekonomi China menjadi sejumlah faktor yang patut diperhatikan untuk melihat arah pergerakan IHSG selanjutnya.