{"id":15457,"date":"2023-09-30T11:21:12","date_gmt":"2023-09-30T04:21:12","guid":{"rendered":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/?p=15457"},"modified":"2023-09-30T11:21:12","modified_gmt":"2023-09-30T04:21:12","slug":"perbedaan-jaksa-dan-penuntut-umum-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/perbedaan-jaksa-dan-penuntut-umum-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Perbedaan Jaksa dan Penuntut Umum di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Dalam ranah hukum Indonesia, khususnya mengacu pada Undang-Undang <a href=\"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/pengertian-syarat-serta-peran-profesi-jaksa\/\">Kejaksaan<\/a> dan KUHAP, perbedaan antara Jaksa dan Penuntut Umum menjadi jelas.<\/p>\n<p>Dalam konteks Undang-Undang Kejaksaan, Pasal 1 angka 1 menjelaskan bahwa Jaksa adalah pejabat fungsional dengan kewenangan sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain sesuai undang-undang.<\/p>\n<p>Sebaliknya, KUHAP tidak mengenal istilah &#8220;Jaksa Penuntut Umum&#8221;. Undang-Undang tersebut merinci peran Jaksa dan Penuntut Umum sebagai entitas terpisah. Jaksa memiliki wewenang luas yang mencakup penuntutan, pelaksanaan putusan, dan tugas tambahan berdasarkan undang-undang.<\/p>\n<p>Penting untuk memahami bahwa dalam konteks hukum, istilah yang digunakan memiliki implikasi signifikan. Jaksa dan Penuntut Umum, meski terkait, memegang peran dan kewenangan yang berbeda sesuai dengan hukum yang mengaturnya.<\/p>\n<p>Dibawah ini akan dijelaskan perbedaan antara Jaksa dengan penuntut umum.<\/p>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<h2>Pengertian Jaksa dan Penuntut Umum<\/h2>\n<h3>Jaksa<\/h3>\n<p>Jaksa adalah pejabat fungsional yang memegang peran ganda dalam sistem hukum. Diberi wewenang oleh undang-undang, jaksa memiliki tugas utama sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Selain itu, jaksa juga memiliki wewenang lain sesuai dengan ketentuan undang-undang.<\/p>\n<h3>Penuntut Umum<\/h3>\n<p>Penuntut Umum merujuk pada jaksa yang mendapatkan wewenang khusus dari Undang-Undang untuk menjalankan proses penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim.<\/p>\n<p>Perannya mencakup penerimaan dan pemeriksaan berkas perkara penyidikan, pelaksanaan prapenuntutan untuk mengatasi kekurangan dalam penyidikan, serta pembuatan surat dakwaan.<\/p>\n<p>Penuntut umum juga berwenang memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan.<\/p>\n<h3>Perbedaan Kewenangan Kejaksaaan dan Penuntut Umum<\/h3>\n<p>Dalam konteks kewenangan, terdapat perbedaan yang signifikan antara Jaksa dan Penuntut Umum.<\/p>\n<p><script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/p>\n<h4>Kewenangan Jaksa (Pasal 30 UU Kejaksaan)<\/h4>\n<ol>\n<li>Melakukan penuntutan.<\/li>\n<li>Melaksanakan penetapan hakim dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.<\/li>\n<li>Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat.<\/li>\n<li>Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang.<\/li>\n<li>Melengkapi berkas perkara tertentu.<\/li>\n<\/ol>\n<h4>Kewenangan Penuntut Umum (Pasal 14 KUHAP)<\/h4>\n<ol>\n<li>Menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau penyidik pembantu.<\/li>\n<li>Mengadakan prapenuntutan apabila ada kekurangan pada penyidikan.<\/li>\n<li>Memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan lanjutan.<\/li>\n<li>Membuat surat dakwaan.<\/li>\n<li>Melimpahkan perkara ke pengadilan.<\/li>\n<li>Menyampaikan pemberitahuan disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa maupun kepada saksi.<br \/>\n<script src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js?client=ca-pub-0032959964480376\" async=\"\" crossorigin=\"anonymous\"><\/script><br \/>\n<!-- 2023des1 --><br \/>\n<ins class=\"adsbygoogle\" style=\"display: block;\" data-ad-client=\"ca-pub-0032959964480376\" data-ad-slot=\"7381647052\" data-ad-format=\"auto\" data-full-width-responsive=\"true\"><\/ins><br \/>\n<script>\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\n<\/script><\/li>\n<li>Melakukan penuntutan.<\/li>\n<li>Menutup perkara demi kepentingan hukum.<\/li>\n<li>Mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai penuntut umum.<\/li>\n<li>Melaksanakan penetapan hakim.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Secara garis besar, perbedaan utama antara Jaksa dan Penuntut Umum terletak pada kewenangan masing-masing. Jaksa memiliki peran lebih luas yang mencakup penuntutan, pelaksanaan putusan, pengawasan, dan penyidikan.<\/p>\n<p>Sementara itu, Penuntut Umum lebih fokus pada tahap penuntutan di muka hakim dan tindakan terkait dalam rangka tugasnya sebagai penuntut umum.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam ranah hukum Indonesia, khususnya mengacu pada Undang-Undang Kejaksaan dan KUHAP, perbedaan antara Jaksa dan Penuntut Umum menjadi jelas. Dalam konteks Undang-Undang Kejaksaan, Pasal 1 angka 1 menjelaskan bahwa Jaksa adalah pejabat fungsional dengan kewenangan sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, serta wewenang lain sesuai undang-undang. Sebaliknya, KUHAP [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":15460,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0","post_calculate_word_method":"str_word_count"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0","format":"standard","subtitle":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"footnotes":""},"categories":[1029],"tags":[],"class_list":["post-15457","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15457","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15457"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15457\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15457"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15457"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15457"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}