{"id":17137,"date":"2024-04-19T11:38:27","date_gmt":"2024-04-19T04:38:27","guid":{"rendered":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/?p=17137"},"modified":"2024-04-19T11:38:27","modified_gmt":"2024-04-19T04:38:27","slug":"pemberontakan-pki-madiun-1948-latar-belakang-tujuan-dan-tokohnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/pemberontakan-pki-madiun-1948-latar-belakang-tujuan-dan-tokohnya\/","title":{"rendered":"Pemberontakan PKI Madiun 1948 : Latar Belakang, Tujuan Dan Tokohnya"},"content":{"rendered":"<h2>Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948<\/h2>\n<p>Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 bagaikan luka menganga dalam sejarah Indonesia. Di balik gejolak politik dan pergolakan ideologi, tersembunyi berbagai faktor kompleks yang memicu meletusnya peristiwa kelam ini.<\/p>\n<ol>\n<li>\n<h4>Jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin dan Lahirnya Front Demokrasi Rakyat (FDR)<\/h4>\n<p>Jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin pada 22 Januari 1948 menjadi titik awal dari rangkaian peristiwa yang berujung pada pemberontakan.<\/p>\n<p>Kabinet yang dipimpin Amir Syarifuddin ini diwarnai pergolakan internal dan ditandai dengan persetujuan Perjanjian Renville yang dianggap merugikan Indonesia.<\/p>\n<p>Pasca turunnya Amir Syarifuddin dari kursi Perdana Menteri, ia kemudian mendirikan Front Demokrasi Rakyat (FDR) bersama Tan Malaka dan Sutan Sjahrir. FDR merupakan koalisi yang menghimpun berbagai kekuatan politik, termasuk PKI.<\/li>\n<li>\n<h4>Kembalinya Muso dan Ambisi Komunis<\/h4>\n<p>Muso, pemimpin PKI yang baru kembali dari Belanda setelah beberapa tahun diasingkan, melihat peluang baru di tengah situasi politik yang kacau.<br \/>\nIa menjalin hubungan dekat dengan Amir Syarifuddin dan bersama-sama mereka mulai merumuskan strategi untuk memperluas pengaruh PKI dan menyebarkan ideologi komunis di Indonesia.<\/p>\n<p>Muso, dengan ambisi politiknya yang besar, menginginkan PKI mengambil alih kekuasaan dan mendirikan Republik Indonesia Soviet. Cita-citanya ini sejalan dengan visi FDR yang menginginkan perubahan radikal dalam sistem pemerintahan Indonesia.<\/li>\n<li>\n<h4>Propaganda Anti-RERA dan Ketidakpuasan Militer<\/h4>\n<p>Kebijakan Rekonstruksi dan Rasionalisasi Aparatur Negara (RERA) yang digagas oleh Kabinet Hatta memicu reaksi keras dari PKI dan para bekas tentara. RERA bertujuan untuk mengembalikan 100.000 tentara demobilisasi menjadi rakyat sipil, di tengah situasi ekonomi yang sulit dan kekhawatiran akan agresi Belanda.<\/p>\n<p>PKI dan para bekas tentara melihat RERA sebagai upaya pemerintah untuk melemahkan kekuatan militer dan menghambat perjuangan melawan Belanda. Propaganda anti-RERA pun gencar dilakukan, memicu sentimen dan memperuncing situasi.<\/li>\n<li>\n<h4>Ketegangan Ideologi dan Perebutan Pengaruh<\/h4>\n<p>Di tengah pergolakan politik dan ekonomi, ketegangan ideologi antara nasionalisme dan komunisme semakin memanas. PKI, dengan ideologi komunisnya, berusaha untuk mendapatkan pengaruh yang lebih besar dalam pemerintahan dan masyarakat.<\/p>\n<p>Situasi ini diperparah dengan perebutan pengaruh antara PKI dan TNI, yang masing-masing memiliki agenda dan kepentingan sendiri. PKI melihat TNI sebagai penghalang bagi ambisi politiknya, dan berusaha untuk melemahkan kekuatan militer.<\/li>\n<li>\n<h4>Faktor Internasional dan Perang Dingin<\/h4>\n<p>Faktor internasional, terutama Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, turut memengaruhi situasi politik di Indonesia. PKI mendapat dukungan dari Uni Soviet dan negara-negara komunis lainnya, sedangkan Amerika Serikat dan negara-negara Barat mendukung pemerintah Indonesia.<\/p>\n<p>Ketegangan ideologi global ini semakin memperuncing situasi di Indonesia, dan PKI melihat peluang untuk memanfaatkan situasi tersebut untuk mencapai tujuan politiknya.<\/li>\n<\/ol>\n<h3>Tujuan Pemberontakan PKI Madiun<\/h3>\n<ul>\n<li>\n<h4>Mengganti dasar negara Pancasila dengan Komunisme<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Membentuk negara Republik Indonesia Soviet<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Mengajak petani dan buruh untuk melakukan pemberontakan<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h3>Tokoh Pemberontakan PKI Maduin<\/h3>\n<p>Sejumlah tokoh memiliki peran penting dalam berdiri dan berkembangnya PKI serta terlibat dalam pemberontakan PKI Madiun 1948. Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Muso<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Amir Syarifudin<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>D.N. Aidit<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Semaun<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Henk Sneevlit<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Abdul Latief Hendraningrat<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Oetmomo Ramelan<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Misbach<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Alimin Prawirodirjo<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Darsono<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Kolonel Dahlan<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Selain tokoh-tokoh tersebut, terdapat juga 17 tokoh yang namanya disebut sebagai korban PKI tahun 1948 yang gugur di Desa Kresek. Mereka adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>\n<h4>Kiai Husen (Anggota DPRD Kabupaten Madiun)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Mohamad (Pegawai Dinas Kesehatan)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Abdul Rohman (Assisten Wedono Jiwan)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Sosro Diprodjo (Staf PG Rejo Agung)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Suharto (Guru Sekolah Pertama Madiun)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Kolonel Inf Marhadi<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>KH Sidiq<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>R. Charis Bagio (Wedono Kanigoro)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>KH Barokah Fachrudin (Ulama)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Maidi Marto Disomo (Agen Polisi)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Letkol Wiyono<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Insp Pol Suparbak<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>May Istiklah<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>R.M. Sardjono (Patih Madiun)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Sapirin (Guru Sekolah Budi Utomo)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Supardi (Wartawan freelance Madiun)<\/h4>\n<\/li>\n<li>\n<h4>Sukadi (Tokoh masyarakat)<\/h4>\n<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948 Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 bagaikan luka menganga dalam sejarah Indonesia. Di balik gejolak politik dan pergolakan ideologi, tersembunyi berbagai faktor kompleks yang memicu meletusnya peristiwa kelam ini. Jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin dan Lahirnya Front Demokrasi Rakyat (FDR) Jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin pada 22 Januari 1948 menjadi titik awal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17139,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-17137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17137"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17137\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}