{"id":19467,"date":"2024-11-20T09:57:51","date_gmt":"2024-11-20T02:57:51","guid":{"rendered":"https:\/\/fahum.umsu.ac.id\/?p=19467"},"modified":"2024-11-20T09:57:51","modified_gmt":"2024-11-20T02:57:51","slug":"pengertian-asas-non-retroaktif-dan-contohnya-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/pengertian-asas-non-retroaktif-dan-contohnya-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Pengertian Asas Non Retroaktif dan Contohnya di Indonesia"},"content":{"rendered":"<h2>Pengertian Asas Non Retroaktif dan Contohnya di Indonesia<\/h2>\n<p>Asas non retroaktif merupakan prinsip penting dalam hukum yang menjamin kepastian hukum bagi masyarakat. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan tidak dapat diterapkan secara surut, artinya undang-undang baru hanya berlaku untuk kejadian yang terjadi setelah undang-undang tersebut disahkan. Dalam konteks hukum di Indonesia, asas ini diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).<\/p>\n<h3>Pengertian Asas Non Retroaktif<\/h3>\n<p>Asas non retroaktif adalah asas yang menyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan tidak boleh berlaku surut. Ini berarti bahwa undang-undang hanya dapat diterapkan pada peristiwa yang terjadi setelah undang-undang tersebut disahkan. Dengan demikian, peristiwa hukum yang terjadi sebelum undang-undang berlaku tidak dapat dikenakan sanksi berdasarkan undang-undang tersebut.<\/p>\n<p>Hal ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan melindungi hak-hak individu dari penegakan hukum yang tidak adil.<br \/>\nDalam Pasal 1 ayat 1 KUHP, dinyatakan bahwa &#8220;tiada suatu perbuatan dapat dipidana, kecuali berdasarkan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada.&#8221; Ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak dapat diterapkan pada tindakan yang dilakukan sebelum adanya ketentuan hukum yang mengaturnya.<\/p>\n<h3>Contoh Asas Non Retroaktif<\/h3>\n<p>Contoh penerapan asas non retroaktif di Indonesia dapat dilihat dalam kasus di mana seseorang melakukan suatu tindakan yang dianggap melanggar hukum, namun tindakan tersebut dilakukan sebelum undang-undang yang mengatur pelanggaran tersebut disahkan. Misalnya, jika pemerintah mengeluarkan undang-undang baru mengenai pelarangan suatu jenis aktivitas pada tahun 2024, maka seseorang yang melakukan aktivitas tersebut pada tahun 2023 tidak dapat dikenakan sanksi berdasarkan undang-undang baru tersebut.<\/p>\n<p>Contoh lain adalah ketika terdapat perubahan dalam ketentuan pidana. Jika sebuah undang-undang baru menetapkan hukuman lebih berat untuk suatu tindak pidana, orang yang melakukan tindak pidana tersebut sebelum undang-undang baru berlaku tidak dapat dijatuhi hukuman berdasarkan ketentuan baru itu.<\/p>\n<h3>Perbedaan Asas Retroaktif dan Non Retroaktif<\/h3>\n<p>Asas retroaktif adalah kebalikan dari asas non retroaktif. Asas ini memungkinkan undang-undang baru untuk diterapkan pada kejadian yang terjadi sebelum undang-undang tersebut disahkan.<\/p>\n<p>Meskipun umumnya asas non retroaktif lebih diutamakan untuk menjaga kepastian hukum, terdapat beberapa pengecualian di mana asas retroaktif dapat diterapkan, terutama dalam kasus-kasus tertentu seperti pelanggaran hak asasi manusia atau tindak pidana luar biasa lainnya.<\/p>\n<table class=\"border-borderMain dark:border-borderMainDark my-[1em] w-full table-auto border\">\n<thead class=\"bg-offset dark:bg-offsetDark\">\n<tr>\n<th class=\"px-sm py-sm whitespace-nowrap\">\n<h4>Aspek<\/h4>\n<\/th>\n<th class=\"px-sm py-sm whitespace-nowrap\">\n<h4>Asas Non Retroaktif<\/h4>\n<\/th>\n<th class=\"px-sm py-sm whitespace-nowrap\">\n<h4>Asas Retroaktif<\/h4>\n<\/th>\n<\/tr>\n<\/thead>\n<tbody>\n<tr>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Definisi<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Tidak berlaku surut<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Dapat berlaku surut<\/h4>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Penerapan<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Hanya untuk kejadian setelah UU berlaku<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Dapat diterapkan pada kejadian sebelumnya<\/h4>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Contoh<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Pelaku tindak pidana sebelum UU baru<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Pemberlakuan UU terorisme untuk kasus sebelumnya<\/h4>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Tujuan<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Memberikan kepastian hukum<\/h4>\n<\/td>\n<td class=\"px-sm border-borderMain dark:border-borderMainDark min-w-[48px] border\">\n<h4>Mewujudkan keadilan dalam kasus tertentu<\/h4>\n<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Asas Non Retroaktif dan Contohnya di Indonesia Asas non retroaktif merupakan prinsip penting dalam hukum yang menjamin kepastian hukum bagi masyarakat. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan tidak dapat diterapkan secara surut, artinya undang-undang baru hanya berlaku untuk kejadian yang terjadi setelah undang-undang tersebut disahkan. Dalam konteks hukum di Indonesia, asas ini diatur [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19468,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_social_meta":{"fb_title":"","fb_description":"","fb_image":"","twitter_title":"","twitter_description":"","twitter_image":""},"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-19467","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-tak-berkategori"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19467","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19467"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19467\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ic2lc.umsu.ac.id\/kini\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}