Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali bergerak melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026). Pada sesi I, IHSG berada di zona merah setelah mengalami tekanan cukup dalam.
Berdasarkan data IDX Mobile pada pukul 12.05 WIB, IHSG turun 1,7% atau 111,5 poin ke level 6.429,88. Sepanjang perdagangan sesi I, indeks bergerak pada rentang 6.420,01 hingga 6.543,28.
Sementara itu, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai sekitar Rp11.227 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 153 saham menguat, 542 saham melemah, dan 268 saham bergerak stagnan.
Saham Top Gainers IHSG Sesi I
Sejumlah saham mencatatkan penguatan signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers pada perdagangan sesi I.
Berikut beberapa saham dengan kenaikan terbesar:
- PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) naik 34,93% ke Rp197.
- PT Leyand International Tbk (LAPD) menguat 34,78% ke Rp93.
- PT Mitra Pedagang Indonesia Tbk (MPIX) naik 29,13% ke Rp164.
- PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) menguat 25% ke Rp4.650.
- PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) naik 25% ke Rp6.225.
Kelima saham tersebut menjadi beberapa emiten yang mencatat kenaikan paling tinggi pada sesi I perdagangan Senin.
Saham Top Losers IHSG Sesi I
Di sisi lain, sejumlah saham mengalami tekanan cukup besar dan masuk dalam daftar top losers.
Berikut beberapa saham yang mengalami penurunan terbesar:
- Reksa Dana Indeks Batavia SRI-KEHATI ETF Tbk (XBSK) turun 14,89% ke Rp566.
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) melemah 12,29% ke Rp7.675.
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) turun 11,13% ke Rp10.975.
- PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) terkoreksi 10% ke Rp198.
- PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) turun 9,79% ke Rp350.
Tekanan pada sejumlah saham tersebut turut menjadi perhatian investor di tengah pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini.
Harga Minyak dan Yield US Treasury Jadi Sentimen Pasar
Sebelumnya, Phintraco menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dan yield US Treasury menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian global.
Investor juga masih mencermati sejumlah faktor dari dalam negeri. Pergerakan nilai tukar rupiah dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menjadi beberapa indikator yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham.
Kondisi tersebut membuat investor perlu memperhatikan perkembangan pasar global maupun domestik sebelum menentukan strategi investasi.
IHSG Sempat Diproyeksikan Rebound
Sebelum perdagangan berlangsung, IHSG diperkirakan masih memiliki peluang untuk mengalami rebound setelah mendapat sentimen positif dari penguatan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam riset harian BNI Sekuritas pada Senin (14/9/2026) menyampaikan bahwa IHSG berpotensi mengalami rebound seiring dengan penguatan bursa AS.
Adapun level support IHSG diperkirakan berada pada kisaran 6.450-6.525, sedangkan level resistance berada di sekitar 6.600-6.640.
Namun, pada sesi I perdagangan Senin, IHSG justru bergerak melemah hingga berada di bawah area support tersebut.
Pergerakan IHSG selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh sentimen pasar global, perkembangan rupiah, yield SBN, serta pergerakan harga komoditas. Investor juga perlu mencermati volatilitas masing-masing saham sebelum mengambil keputusan investasi.

